DAMPAK KONFLIK, TSUNAMI DAN REKONTRUKSI TERHADAP KEMISKINAN DI ACEH
MEMAHAMI KEMISKINAN DI ACEH
Temuan-Temuan Utama
• Tingkat kemiskinan di Aceh sebelum tsunami, sebesar 28.4 persen dari jumlah penduduk pada tahun
2004, jauh lebih tinggi daripada tingkat kemiskinan nasional Indonesia sebesar 16,7 persen. Kemiskinan
di Aceh meningkat pasca bencana tsunami mencapai 32,6 persen. Tingkat kemiskinan turun di bawah
angka sebelum tsunami menjadi 26,5 persen pada tahun 2006, disebabkan adanya kegiatan rekonstruksi
dan berakhirnya konl ik.
• Peningkatan angka kemiskinan yang kecil setelah tsunami disertai dengan heterogenitas mendasar antar
berbagai daerah di Aceh. Wilayah yang terkena dampak tsunami memang mengalami peningkatan
angka kemiskinan, namun pada tahun 2006 angka ini kembali ke tingkat sebelum tsunami, atau bahkan
lebih kecil. Kemampuan untuk memperlancar konsumsi melalui penggunaan tabungan jelas membantu
keluarga-keluarga tertentu melalui masa transisi yang sulit, sama halnya dengan penerima bantuan
bencana. Kemiskinan di wilayah konl ik tetap tinggi selama periode ini namun juga mengalami penurunan
yang signii kan di tahun 2006.
• Jumlah penduduk rentan di Aceh amat tinggi, sehingga goncangan sekecil apapun dapat menyebabkan
mereka jatuh miskin. Di sisi lain, banyak orang yang hidup hanya di bawah garis kemiskinan sehingga
intervensi tepat sasaran atau pertumbuhan berbasis luas dapat dengan cepat mengurangi jumlah
penduduk miskin.
• Kemiskinan di Aceh umumnya merupakan fenomena di pedesaan, dengan sekitar 30 persen keluarga di
wilayah pedesaan hidup di bawah garis kemiskinan dibandingkan dengan kurang dari 15 persen di wilayah
perkotaan. Secara geograi s, wilayah yang terletak dekat Banda Aceh memiliki tingkat kemiskinan yang
rendah, sementara daerah-daerah di wilayah tengah dan selatan Aceh menunjukkan tingkat kemiskinan
yang lebih tinggi. Rendahnya tingkat pendidikan serta pertanian sebagai kegiatan utama keluarga juga
terkait secara positif dengan kemiskinan.
• Ada dua kelompok rentan di Aceh yang saling tumpang tindih namun sesungguhnya berbeda: kelompok
yang ‘miskin secara struktural’ dan kelompok yang ‘terguncang’ oleh tsunami, yang kehilangan harta
benda pribadi. Banyak dari kelompok ‘terguncang’ memiliki kapasitas produktif tertentu, misalnya tingkat
pendidikan, yang tidak dimiliki oleh kelompok yang ‘miskin secara struktural’. Mengingat tipologi ini
serta keterbatasan dana publik yang dapat digunakan untuk mengurangi kemiskinan menyebabkan
Aceh saat ini harus memikirkan investasi publik yang akan memberikan hasil paling besar dalam upaya
pengurangan kemiskinan tersebut. Kelompok ‘terguncang’ akan amat terbantu melalui upaya rehabilitasi
aset yang hilang dan percepatan proses yang memungkinkan mereka mendapatkan penghasilan
kembali. Membantu kelompok yang ‘miskin secara struktural’ memerlukan intervensi yang berbeda —
yaitu intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk terlibat dalam kegiatan
ekonomi (misalnya tenaga kerja, aset i sik).
Sumber : http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=94305388059664530#editor/target=post;postID=2448874153673777053
21 Feb 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar